Jumat, 01 Maret 2013

Kawruh Jiwa dalam Kebudayaan Jawa - Psikologi Timur

Kawruh Jiwa dalam Kebudayaan Jawa
Kebudayaan Jawa itu tidak homogen apalagi monolitik. Itu sebabnya Von Magnis (1984), menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan orang Jawa sesungguhnya adalah suatu konsep kontruksi teoritis, dan tidak menunjukan kepada kelompok orang perorangan tertentu.

Nilai-nilai adalah bagian dari wujud abstrak kebudayaan yang menjadi pedoman bagi perilaku manusia. Keterkaitan antara nilai dengan sikap hidup inilah yang biasa disebut sebagai mentalitas. salah satu sikap yang dianggap menonjol oleh orang Jawa adalah ketergantungannya pada masyarakat, demikian Mudler (1973). Dinyatakan bahwa kepribadian orang Jawa hampir sama sekali bersifat sosial. Seseorang dikatakan baik apabila masyarkatnya menyatakan demikian.
Kawruh Jiwa dalam Keseluruhan Wejangan Ki Ageng Soerjomentaram. Ki Ageng Soerjomentaram dapat dikatakan telah mulai memberikan uraian-uraianya sejak berumur kurang lebih 30 tahun – pada masa Pagoejoeban Selasa Kliwon (1921-1922), sampai saat wafatnya 1962. pada keseluruhan naskah yang telah diterbitkan oleh Idayu – yang dipih dari wejangan-wejangan yang diberikan oleh Ki Ageng selama kurang lebih 40 tahun, nampak jelas penerapan “pengawikan Pribadi” tersebut. Ki Ageng menunjukan betapa kesempurnaan hanyalah idam-idaman, cita-cita, keinginan, pamrih yang justru menghalangi tubuhnya manusia tanpa ciri
Dalam ilmu pendidikan yang disampaikan sebagai ceramah dalam Kongres Taman Siswa 1932, beliau menyampaikan perlunya kembali menekankan arti pentingnya kebahagian anak sebagai tujuan pendidikan. karenanya pendidikan anak perlu memusatkan perhatian untuk membantu anak agar supaya berpikir dan mengerti secara sadar. Dalam wejangan-wejangan tersebut, nmapaklah dengan jelas penekananakan perlunya Pengawikan Pribadi.
Salah satu penerapan “Pengawikan Pribadi” tersebut adalah membicarakan tentang kesempurnaan, Ki Ageng menunjukan betapa kesempurnaan hanyalah idam-idaman, cita-cita, keinginan, pamrih yang justru menghalangi tumbuhnya manusia tanpa ciri. Bermacam-macam usaha yang dilakukan orang untuk menjadi sempurna di buka kedoknya oleh Ki Ageng sebagai takhayul. Misalnya puasa ngalong di gua-gua dll. Dalam jimat perang, KI Ageng membuka kedok usaha-usaha orang untuk menjadi sakti dengan ajimat-ajimat sebagai takhayul.
Ki Ageng menunjukan betapa keberanian dan ketabahan itu hanya dapat diperoleh dengan mawas diri, membebaskan diri, termasuk kepentingan untuk menjadi pahlawan. Hal ini agaknya berpadanan dengan apa yang diajukan oleh Sosrokarnoto: “sepi ing pamrih, tebih ing ajrih”. Dalam jiwa persatuan, Ki Ageng kembali menunjukan bahwa bersatu, jujur, cinta, guyub akan menumbuhkan rasa enak, puas dan cukup. Dalam Rasa Unggul inilah Ki Ageng menganjurkan supaya orang tidak selalu ngangsa-angsa, ngaya-ngaya, dan berpedoman “enam-sa”, yakni: Sakbutuhe, Saperlune, Sacukupe, Sakepenake, Samestine, Sabenere.

Kawruh Jiwa Kramadangsa
         Substansi Kawruh Jiwa
Nama Ilmu Jiwa Kramadangsa diambil dari buku yang diberi judul demikian. Buku tersebut merupakan bahan ceramah Ki Ageng Soerjomentaram bersama Ki Pronowowidigdo di Yayasan Hidup Bahagia di Jakarta pada tahun 1959. Namun keseluruhan dari wejangan-wejangan Ki Ageng yang semula diberi nama “Kawruh begja” atau Kawruh Jiwa”. Kramadangsa adalah sekedar nama. Istilah ini dimaksud oleh Ki Ageng sebagai rasa pribadi yang identik denagn namanya sendiri.

Tiga pokok penting akan dicoba diuraikan di bawah ini yang pertama adalah tentang rasa, yang kedua tentang Aku (Kramadangsa), serta ketiga mawas diri.
1.      Rasa
“Wong Jawa iku nggone rasa,” demikian sebuah ungkapan yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa. Suseno (1983) menjelaskan; ‘Dalam bahasa aslinya, yaitu Sansekerta, “rasa” mempunyai berbagai arti. Arti     pokoknya ialah “air” atau “sari” buah-buahan atau tumbuhan. Dari situ rasa lalu     berarti pengecapan (taste), perasaan (perasaan cinta, marah, belas kasihan,     kemesraan); lalu rasa juga berarti “inti”, “suara suci OM” yang adalah pernyataan     kodrat ilahi. Bagi para pujangga rasa berarti kenikmatan terdalam (delight, charm)     sedangkan rasa dari suatu karya sastra ialah “inti dasarnya yang halus dan dalam”    (keynote).’

Dalam kepustakaan Jawa, agaknya rasa dipahamkan sebagai substansi atau zat yang mengalir alam sekalir artinya ia berupa pertemuan antara jagad gedhe dan jagad cilik. Terkadang ia muncul sebagai daya hidup. Sementara Ki Ageng Soerjomentaram sendiri berpendapat, bahwa hanya dengan jalan mentransendensasikan rasa bertentangan inilah manusia dapat mengembangkan rasa yang lebih tinggi, yakni rasa bebas. Ki Ageng juga berpendapat bahwa orang baru merasa ‘ada’ apabila ia berhubungan dengan orang lain, dengan benda atau rasanya sendiri.Rasa bertindak-tanduk dalam gagasan dan pikiran, misalnya rasa marah akan menimbulkan pikiran untuk mencelakakan orang lain. Rasa unggul muncul dalam gagasan untuk ngaya-aya mencari drajat, semat, keramat. Rasa Kramadangsa adalah rasa namanya sendiri, ketika seseorang dipanggil menurut namanya.

Kita mengenal hirarki rasa, muali dari yang paling wadhag, berhubungan dengan badan kasar, badan halus, dan roh. Demikianlah kita kenal: Rasa Pangrasa, yakni rasa badan wadhag, seperti yang dihayati seseorang melalui indranya: rasa pedas, manis, gatal dsb. Juga rasa yang hadir kebadan seseorang, seperti misalnya rasa sakit, rasa enak.

Rasa Rumangsa, yakni rasa eling, rasa cipta, rasa grahita, misalnya ketika seseorang menyatakan bahwa Kramadangsa telah “ngrumangsani kaluputane” atau “rumansa among titah, Kramadangsa among saos sukur”.

Rasa Sejati, yakni rasa yang masih mengenal rasa yang merasakan, dan rasa dirasakan. Sudah manunggal, tetapi masih disebut. Rasa damai, rasa bebas dll.
Sejatining Rasa, yakni Rahsa, yang berarti hidup itu sendiri abadi.

Demikianlah kita melihat ada rasa hidup, rasa tanggapan, rasa catatan, rasa aku serta bebas yang berhubung-hubungan secara prosesual menembus keempat dimensi kehidupan; tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia serta manusia tanpa ciri.

2.      Aku Kramadangsa.
Kita lihat bahwa kepribadian manusia Jawa terutama dibetuk dari interaksinya dengan lingkungan luar (kenyataan), serta lingkungan dalam (kasunyatan). Sementara Reksosusilo (1983) menunjukan bahwa ‘aku’nya orang Jawa tidak pernah tunggal individual.

Kramadangsa adalah nama orang. Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah ilmu jiwa mengenai orang yang bernama Kramadangsa. Kita sendiri adalah orang; jadi mempelajari Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah mempelajari diri sendiri.

Manusia adalah juru catat. Melalui panca indera ia menciptakan segala macam kenyataan dalam rasanya. Peran sebagai juru catat adalah peranan dalam ukuran kesatu. Catatan-catatan ini hidup apabila mendapat perhatian dari si juru catat. Dari catatan-catatan ini muncul rasa “Kramadangsa”, rasa aku dengan namanya sendiri.

Karamadangsa mengawasi tindak-tanduknya sendiri. Dalam perhubungan dengan orang lain, orang merasakan perasaan orang lain dalam rasanya sendiri. Kramadangsa perlu membedakan rasanya sendiri, dengan rasa orang lain. Orang adalah barang asal. Sebagai barang asal, ia adalah juru catat pengalamna-pengalamanya. Dalam bangunan asal ini, ada “ada” yang pra-personal, terkadang disebut pra-self. Rasa aku dilahirkan dari rasa catatan-catatan ini, baik jumlah, ragam maupun susunannya.

Sehingga dalam diri manusia ada dua kau, yakni aku tak tetap dan aku tetap. Aku tak tetp ini mengahdirkan diri sesuai dengan keinginan-keinginannya. Aku tetap adalah aku universal, yang telah bebas dari catatan-catatannya sendiri bahkan bisa mengawasi diri sendiri. Manusia tanpa cirilah yang menjadi sebab kenapa manusia mampu membebaskan diri dari keinginan-keinginan yang tanpa batas.

3.      Mawas Diri
Mawas diri telah menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari kebudayaan Jawa, baik dalam tradisi mitis maupun etis. Sekalipun perlu diingat bahwa hampir semua kepustakaan Jawa keterkaitan antara tradisi etis dan mistis adalah sangat erat.  Mawas Diri adalah tahap integrasi diri di mana egoisme dan egosentrisme diganti dengan sepi ing pamrih (Rahmat Subagyo, 1983.

Mawas diri pada dasarnya adalah meneliti rasa sendiri. Apabila meneliti diri sendiri sampai tuntas, maka orangakan mencapai manusia tanpa ciri. Mawas diri adalah kegiatan manusia dalam dataran psikologi, menembus ke dataran religius etis. Mawas diri dimulai dengan meneliti rasa senang dan rasa susahnya sendiri; yakni rasa orang dalam perhubungannya dengan benda, orang lain serta gagasan.

Secara khusus, mawas diri dilaksanakan dalam hubungan Kramadangsa dengan orang lain. Dengan meniliti rasa sendiri, rasa orang lain dalam rasanya sendiri, orang akan dapat memilahkan rasanya sendiri dengan rasa orang lain. Terkadang dalam usahanya  mawas diri juga mengalami hambatan. Pamrih untuk mencampai kesempurnaan dalam hidup, justru menjadi hambatan utamanya. Terkadang dalam usaha untuk menjadi sempurna, orang sering tergoda untuk memperoleh ilham, wahyu, atau anugerah lain yang membuat ia menjadi sempurna. 

Sebenarnya tidak semua mawas diri punya bau mistik yang keras. Kitab jayengbaya dari Ki Sarataka, nama Raden Ngabehi Ronggowarsito semasa muda, dengan penuh humor melakukan mawas diri. Ia membayangkan diri menjadi orang lain, menimbang-nimbang susah-senangnya, sampai akhirnya dia sampai pada kesimpulan bagaimanapun juga lebih enak jadi diri sendiri.

Mawas diri telah menjadi bagian dari akal sehat masyarakat Jawa untuk masa yang lama. Dalam kepustakaan Kebatinan, istilah ini juga dikenal sangat luas. Brataksewa (lihat Darminta, 1980), misalnya menytakan adanya tingkatan-tingkatan kualitas pengkajian diri ini:
1.      Nanding sarira, di mana seseorang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain an mendapatkannya dirinya lebih unggul.
2.      Ngukur sarira, di mana seseorang mengukur orang lain dengan dirinya sendiri sebagai tolak ukur.
3.      Tepa sarira, dimana seseorang mau dan mampu merasakan perasaan orang lain.
4.      Mawas diri, dimana seseorang mencoba memahami keadaan dirinya sejujur-jujurnya.
5.      Mulat sarira, lebih dari mawas diri, dimana manusia menetukan identitas yang terdalam sebagai pribadi


Latar Belakang dan Dampak Poligami

1. Berikut ini contoh latar belakang seseorang melakukan poligami;

a.       Kepercayaan atau Agama
Manusia adalah makhluk berpikir dan merasa serta berkehendak dimana perilakunya mencerminkan apa yang difikir, yang dirasa dan yang dikehendakinya. Manusia juga makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus, disamping ia dapat menghayati perasaan keagamaan dirinya, ia juga dapat meneliti keberagamaan orang lain. Tetapi apa makna agama secara psikologis pasti berbeda-beda, karena agama menimbulkan makna yang berbeda-beda pada setiap orang salah satu sebabnya adalah karena tingkat pendalaman dan pemahaman terhadap agama. Dan sebagian pelaku poligami adalah orang yang taat dan paham terhadap agama, khususnya agama Islam. Menurut Aj-Jahrani (1996) Islam rnembolehkan poligami untuk tujuan kemaslahatan yang ditetapkan bagi tuntutan kehidupan. Poligami untuk diterima tanpa keraguan demi kebahagian seorang mukmin didunia dan di akherat. Islam tidak menciptakan aturan poligami dan tidak mewajibkan umatnya untuk melaksanakan poligami. Islam datang untuk mengatur poligami yang telah jauh sebelum Islam datang. Tujuan semua itu adalah untuk memelihara hak-hak wanita, memelihara kemuliaan mereka yang dahulu terabaikan karena poligami yang tanpa ikatan, persyaratan, dan jumlah tertentu.

b.      Dorongan Seksual
Susunan jasmani wanita dan pria berbeda satu sama lain. Pria memiliki masa subur hingga usia 70 tahun dari sejak baligh, sedangkan wanita hanya bisa mengandung hingga usia 50 tahun. Daya seksual yang dimiliki sebagian besar laku-laki cukup tinggi sehingga membuatnya tidak dapat monogami, baik karena kelemahan istrinya dimana sang istri memiliki masa-masa yang melemahkan aspek seksualnya seperti kehamilan, nifas yang dapat mencapai empat puluh hari dan haidh yang biasanya lebih dari empat hari. Hal ini dapat membuat suami tidak dapat menyalurkan naluri seksualnya.

Secara psikologis lelaki memiliki ketertarikan terhadap wanita lain bila dirasa pasangannya tidak memilikinya seperti tidak seksi atau menarik dan tingkat kepuasan dalam berhubungan suami istri rendah hal ini akan lebih memicu dorongan seksualnya. Oleh karena itu sebagian orang menjadikan poligami sebagai solusi untuk menjaga kehormatannya. Nando Pelusi, seorang psikolog klinis, menemukan bahwa manusia seringkali menciptakan ‘asuransi cinta’ bagi dirinya. 

Yaitu, mendekati atau sekedar memikirkan orang-orang yang memenuhi persyaratan untuk menjadi pasangan dirinya, sebagai cadangan jika hubungan yang telah dimiliki manusia itu saat ini kandas. Bahkan, ditemukan bahwa ternyata banyak pemakai jasa layanan pencari pasangan di internet (online dating) sebenarnya sudah berada dalam ikatan pernikahan.

Alasan dari perilaku ini diperkirakan adalah warisan dari evolusi. Manusia, demi memastikan agar dirinya dapat berreproduksi, akan membawa dirinya sejauh mungkin dari kemungkinan tidak memiliki pasangan. Artinya, memiliki ikatan cinta dengan seseorang rupanya tidak cukup untuk membuat seorang manusia merasa aman. Dia tetap merasa harus memiliki ‘jaring pengaman’ andaikata dia terlepas dari hubungan ini.
c.       Untuk Memperoleh Keturunan
Banyaknya keturunan dapat memberikan rasa bangga terhadap suami. Dalam beberapa kisah nyata pelaku poligami adalah suami dengan istri mandul atau tidak dapat lagi memberikan keturunan, sehingga memutuskan untuk menikahi istri yang lain dengan harapan darinya dapat memperoleh keturunan. Ada kalanya praktek poligami ini di dukung oleh istrinya untuk mencarikan atau menawarkan seorang istri pada suaminya.

d.      Presentase Wanita yang Banyak
Berbagai sensus menunjukkan bahwa presentase perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Jika zaman dahulu populasi wanita yang tinggi diakibatkan peperangan, kini tingginya populasi wanita disebabkan oleh kelahiran wanita dan pendeknya usia laki-laki. Hal ini menjadi alasan sebagian orang melakukan poligami demi mencegah kerusakan moral dan penyelewengan-penyelewengan oleh wanita-wanita tersebut.

2.      Dampak Poligami terhadap Anggot Keluarga
a.       Membangun Konsep Diri
Sebagian dari kali wanita yang taat menjalankan agama akan lebih ringan menjalankan rumah tangga dengan poligami dibandingkan wanita biasa, karena seperti daftar komponen-komponen pada buku The Encyclopedia of Philosophy yang berpendapat bahwa agama mempunyai ciri-ciri khas (characteristic features of religion) salah satu dari delapan komponen itu adalah konsep hidup di dunia dan apa yang harus dilakukan dihubungkan dengan Tuhan. Maka wanita yang taat dan berorientasi pada Tuhan akan lebih membangun atau menemukan konsep dirinya, atau mungkin malah jatuh karena ketidaksanggupannya.

b.      Merasa Tidak Dihargai
Wanita cenderung terkena depresi dua kali lipat dibanding pria. Salah satu penyebabnya adalah cenderung mengkritik diri sendiri, terlebih mereka akan merasa sangat bernilai ketika berhubungan atau dicintai orang lain. Jika sang wanita merasa hubungannya gagal dengan sang suami dengan anggapan bahwa dirinya tidak cukup memuaskan sang suami sehingga memutuskan poligami maka wanita tersebut akan rentan dengan depresi, merasa dirinya tidak berharga.

c.       Menumbuhkan Rasa Sayang dan Toleransi
Poligami menciptakan sebuah sistem keluarga yang lebih kompleks, keadilan sang suami dan kepatuhan sang istri adalah kunci utama. Jika terjadi komunikasi yang selarasan antara istri yang satu dengan yang lain maka poligami akan membuahkan hasil yang indah dan harmonis. Darinya akan menumbuhkan rasa sayang satu sama lain serta bertoleransi. Pengaruh ini juga akan berdampak baik terhadap anak-anak dimana mereka tidak lagi peduli dari ibu yang mana dia dilahirkan karena dengan keadaan harmonis semua istri ayahnya adalah ibu bagi mereka.

d.      Menimbulkan Rasa Benci dan Trauma
Poligami yang tidak sesuai dengan hukum syar’i akan menciptakan hubungan yang tidak sehat dalam keluarga, hal tersebut akan menjadi faktor rusaknya lembaga perkawinan yang merupakan pukulan dan dapat menghancurkan mental anak, sebab poligami akan merampas perlindungan dan ketentraman anak yang masih berjiwa bersih. Komunikasi yang buruk, pilih kasih, ketidakpekaan dan lainnya dapat menimbulkan luka, kecewa, cemburu dan tidak percaya terhadap orangtuanya. Akan menumbuhkan benih-benih benci antara istri yang satu dengan yanu dengan lain, maupun anak-anak, akan muncul sikap agresif dan permusuhan. Tidak jarang juga menimbulkan trauma terhadap perkawinan ketika anak yang hidup di dalam keluarga poligami dewasa.

Dampak Negatif bermain Game

Ketika orang yang tidak bermain game secara rutin memperhatikan video game biasanya diliputi perasaan cemas. Tampak seolah-olah game hanya memberikan dampak negatif berupa seksualitas, kekerasan, dan isolasi. Benarkah demikian? Beck dan Wade (2007) memberikan gambaran terhadap beberapa hal yang sering dikonotasikan negatif oleh nongamer:
1.         Peran Gender
Video game adalah bidang permainan yang sama bagi kedua gender. Mungkin jumlah pemain perempuan yang rutin lebih sedikit, tetapi jumlahnya semakin meningkat. Apabila fokus pada cara game dapat mengubah peran gender, lamanya seseorang bermain tampaknya tidak sepenting jenis game yang dimainkan.Wanita lebih cenderung menyukai teka-teki, sementara pria lebih menyukai strategi, olahraga, balap, dan game sarat aksi lainnya.
Interaktivitas game membuat peran gender menjadi lebih fleksibel. Saat bermain, gamer laki-laki dan perempuan dapat bereksperimen dengan peran gender manapun. Sedikit sekali muncul komentar negatif dari sesama gamer yang memilih memainkan tokoh lawan jenis. Bagi mereka jenis kelamin tidak lah begitu penting, lebih penting mempertimbangkan tokoh yang kuat, cepat, cerdas, dan memiliki peluang yang sama untuk menang.
Satu hal yang jelas bahwa game bukan dominasi kaum laki-laki, partisipasi wanita terus meningkat, dan perilaku terkait peran gender tidak segamblang yang diduga para nongamer. Pemicu pengalaman dan pembelajaran adalah karakter alamiah dasar bermain game, bukan kandungan superfisial. Bermain game secara umum jauh lebih berpengaruh pada sikap dan perilaku bisnis, daripada tipe game yang dimainkan.
2.         Kekerasan
Orangtua dan sebagian besar orang lain khawatir bahwa game terlalu sarat kekerasan, menggambarkan berbagai tindakan mematikan yang seringkali ilegal secara jelas dan tanpa pertimbangan moral. Hal ini menimbulkan kecemasan akan menjadikan anak muda tidak sadar akibat dari perbuatan-perbuatan tersebut jika dilakukan di dunia nyata. Ternyata, yang terjadi tidak separah yang diperkirakan.
Media massa mendorong untuk percaya bahwa ada hubungan kuat antara kekerasan dan game. Banyak referansi yang mengacusejumlah penelitian ilmiah tentang korelasi antara kekerasan game. Namun, hasil penelitian ini umumnya tidak menghasilkan kesimpulan yang jelas. Sebaliknya justru memicu perdebatan di antara akademisi.
Di dunia nyata, stastistik kejahatan di bawah umur menurun tajam (bersamaan dengan tingkat kejahatan secara umum) pada masa-masa awal ketika tingkat kekerasan video game mencapai masa kritis. Tingkat kejahatan di sekolah juga tidak meningkat, yang bertambah hanya liputan media bahwa video game begitu mematikan.
3.         Stereotipe
Orang-orang di luar generasi game cenderung berasumsi bahwa bermain game digital akan menghambat perkembangan sosial yang normal. Khawatir jika gamer akan menjadi penyendiri yang kecanduan pada kegiatan eskapisme (pelarian). Dalam beberapa hal, sulit untuk menyangkal bahwa game adalah suatu bentuk pelarian. Secara fisik pemain memang ada dalam suatu ruangan, misalnya. Namun, kegirangan ketika memainkannya adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan mereka. Hal ini cenderung membuat nongamer khawatir. Kecemasan bahwa para gamer akan terus menerus kabur dalam dunia kecil mereka.
Orang lain, biasanya orangtua gamer, sebenarnya melakukan hal yang sama dengan televisi. Bagi para nongamer pelarian mengimplikasikan campuran rasa takut, kelemahan, dan kurangnya ambisi.
Gamer, dari sudut pandangnya, mengetahui secara jelas perbedaan antara game dengan dunia realitas. Banyak yang berkata bahwa game adalah cara gamer mengalami hal-hal yang tidak bisa mereka alami di dunia nyata. Nuansa ini menunjukkan bahwa batas antara realitas dan realitas dunia maya bagi para gamer jauh lebih jelas daripada yang dilihat nongamer pada umumnya. Ketika gamer mngatakan tentang realitas dunia maya, maksudnya adalah “seperti dunia nyata, tapi lebih asyik!”, dengan kata lain hiburan. Hiburan adalah sesuatu yang mereka pahami di tingkat bawah sadar karena generasi ini memang besar dalam dunia yang menjunjung tinggi hiburan.
Gamer memilih hiburan yang diciptakan dari contoh realitas, kemudian disunting, dipercepat, dan diperkuat menjadi hal yang sama sekali berbeda. Bagi nongamer, ini adalah eskapisme, menarik diri dari dunia nyata. Namun, bagi gamer ini sekedar melibatkan diri dalam bagian dunia nyata lain yang berbeda, bagian yang jauh lebih menyenangkan.
4.         Isolasi
Isu isolasi menggambarkan gamer sebagai seorang yang penyendiri, kikuk, dan menyebalkan, hanya bergaul dengan orang-orang maya karena tidak pernah bergaul dengan orang-orang nyata. Seperti menonton film atau membaca buku, keasyikan bermain video game terlihat seperti menghilang dari dunia luar. Kebanyakan game hanay bisa dimainkan sendirian. Uniknya, jenis game yang paling kompleks secara sosial justru dianggap paling terisolasi manusia dengan menyediakan banyak pemain dengan daftar karakteristik lengkap yang dapat dipilih dan aturan rumit untuk mengendalikan interaksi mereka. Para pemain rela menginvestasikan sejmlah besar waktunya, dalam penelitian dikatakan bisa jadi dua puluh empat jam dalam satu minggu. Komitmen waktu yang sangat besar ini membuat orang di sekitarnya merasa terganggu. Nongamer  berprasangka bahwa game menyeret individu-individu yang tidak bisa berinteraksi secara sosial.
Memang video game bukannya tidak berbahaya sama sekali, tetapi bisa dipastikan tentang dua hal, yaitu pertama video game telah menjadi standar budaya, game adalah salah satu bagian dari hidup.inilah sebabnya melarang video game akan memicu perlawanan keras. Namun, ini berarti mengizinkan video game adalah sesuatu yang benar. Harris (dalam Buck & Wade, 2007, h. 68) menyatakan bahwa setiap generasi membesarkan dirinya sendiri. Jadi, cukup dengan berbagi pengalaman dengan teman sebaya sudah bagus.

salam, calon psikolog

adi Pemulung Sejak SD untuk Bayar Sekolah Hingga S1

Wahyudin 'Mas Ganteng', Jadi Pemulung Sejak SD untuk Bayar Sekolah Hingga S1

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jumat, 01/03/2013 15:21 WIB



Jakarta - Siapa sangka, sosok Wahyudin (21) yang tinggi besar ini adalah pemulung. Wahyu, yang suka dipanggil 'Mas Ganteng' ini memulung sampah sejak SD. Hasil dari memulung itu dia gunakan untuk sekolah dari SD hingga mencecap bangku kuliah. Gelar sarjana tinggal direngkuh Wahyu di depan mata.

detikcom menyambangi Wahyu di kediaman orang tuanya di Kampung Kalimanggis, Gang Lame, Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (1/3/2013). Dia bercerita tentang kisah hidupnya.

"Awalnya ketika saya kelas 4 SD, saya mulai merasa tidak mungkin bisa sekolah sampai SMP," ujar Wahyudin.

Wahyu, terlahir dari ayah berputra 5 yang berpoligami, Mija (60) dengan Fatmawati (38), yang menjadi istri kedua, pada 12 Desember 1991 di Bekasi. Wahyu adalah sulung dari 3 bersaudara. Ayah dan ibu Wahyu adalah petani yang menggarap lahan kosong milik orang lain. Dengan kondisi itu, orang tuanya sibuk memenuhi kebutuhan perut Wahyu dan saudara-saudaranya. Sekolah pun tidak menjadi prioritas.

Saat kelas 4 SD itu Wahyu mulai khawatir tidak bisa sekolah. Ketika itu ia pun mulai menabung uang jajannya agar bisa sekolah.

"Saat itu saya berpikir kalau tidak sekolah bisa seperti kakak saya. Saya cuma bisa memendam di dalam hati karena tidak berani cerita ke orang tua saya yang galak,". kenangnya.

Kehidupan Wahyu kecil tentu tidak seperti anak-anak SD lainya yang hanya tinggal belajar, tidak memikirkan masalah uang bulanan sekolah. Sampai suatu ketika ia bermain ke rumah tetangganya yang berprofesi sebagai pemulung di kampungnya.

Tetangga kampung yang bernama Ani dan anaknya yang bernama Jery hidup dengan cara memulung. Karena keinginannya yang kuat buat membiayai sekolah, maka Wahyu menyatakan ingin ikut menjadi pemulung pada tetangganya itu.

"Biar dapat duit supaya bisa sekolah. Dulu
saya tidak tahu itu mulung, saya tahunya
ngumpul sampah jadi duit," jelas Wahyu.

Sejak itu, 10 tahun yang lalu, Wahyu memulung mulai dari jam 1 malam hingga pagi waktunya sekolah. Kemudian memulung itu dilanjut lagi dari jam 22.00 hingga pukul 02.00 dini hari.

Rupiah demi rupiah ia kumpulkan hingga akhirnya menghasilkan uang. Sebagian dari uang tersebut digunakannya untuk membeli beberapa ekor anak ayam.

"Anak ayam itu saya ternakkan, kemudian ditabung. Terkumpul sekitar satu jutaan rupiah buat saya masuk sekolah SMPN 28 Bekasi,". katanya.

Ketika SMP dia masih terus memulung untuk uang jajan sampai bayar SPP sekolah. Nenek Wahyu memberinya sepasang anak kambing untuk diternakkan. Hasilnya dia gunakan untuk uang masuk sekolah ke SMA 7 Bekasi. Selain menjadi pemulung dan menjual hasil ternak, Wahyu juga berjualan gorengan.

Sindiran dan cibiran diterima Wahyu dari teman-temannya ketika mengetahui profesinya yang identik dengan sampah dan kotor. Pemuda ini mengaku sempat kesal dan malu, namun disimpannya rasa itu dalam hati.

Dia makin giat menjadi pemulung saat masa libur sekolah karena kekhawatiran tidak bisa melanjutkan kuliah. Dari hasil memulung ini, Wahyu mendapatkan penghasilan Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari untuk biaya sehari-hari hingga bisa menyisakan Rp 300 ribu-Rp 500 ribu per bulan.

Hingga kini, Wahyu masih terus memulung untuk meneruskan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka). Beruntung, dia mendapatkan beasiswa dari kampus dan Disdik DKI sehingga meringankan biaya kuliahnya.

Kini Wahyu sudah sidang skripsi yang berjudul "Pengaruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi'. Rencananya ia akan diwisuda pada bulan Desember 2013.

"Aku berencana melanjutkan studiku ke S2. Bukan hal yang mudah memang. Itu perjuangan besar," kata Wahyu yang akan terus memulung hingga kelar S2 dan ingin menjadi pengusaha di bidang peternakan ini.

Kiprah Wahyu menjadi pemulung dikenal di perumahan Taman Laguna Bekasi. Wahyu menjadi satu-satunya pemulung yang diizinkan memulung di kompleks perumahan itu karena semua warga sudah mengenalnya sejak kecil. Hal ini dibenarkan oleh Satpam Taman Laguna Bekasi, Saimin.

"Oh si Wahyu.. iya dia memang sering mulung sampah di sini tapi itu jarang-jarang. Di sini cuma dia doang yang boleh mulung sampah. Soalnya dia sudah dikenal dari kecil sebagai pemulung. Udah gitu orangnya gimana ya, masih lugu dan polos gitu," kata Saimin yang dikonfirmasi detikcom.

(nwk/nrl)