Jumat, 01 Maret 2013

Ciri-Ciri Penyimpangan Sosial

Penyimpangan Sosial
Setiap sistem pengendalian sosial tidak dapat berfungsi secara sempurna, dan disetiap masyarakat pasti selalu saja terdapat beberapa orang yang tidak berperilaku sebagaimana yang diharapkan sekalipun bentuk dan frekuensi timbulnya sikap non-konformis pada setiap masyarakat memiliki banyak perbedaan.

Ciri-Ciri Penyimpangan
1.      Penyimpangan dapat didefinisikan
Tidak ada satu pun perbuatan penyimpangan yang berdiri sendiri. Suatu perbuatan disebut menyimpang apabila perbuatan itu dinyatakan sebagai menyimpang. Becker menerangkan bahwa “penyimpangan bukanlah kualitas dari suatu tindakan yang dilakukan orang, melainkan konsekuensi dari adanya peraturan dan penerapan sangsi yang dilakukan oleh orang lain terhadap pelaku tindakan tersebut. Penyimpang (orang yang menyimpang) adalah seorang yang memenuhi kriteria definisi itu secara tepat. Dengan demikian penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

2.      Penyimpangan yang diterima dan yang ditolak
Beberapa orang penyimpang, orang jenius, orang suci, pahlawan, mungkin saja dihormati dan dipuja biasanya setelah mereka meninggal dunia, sehingga tidak lagi dapat menimbulkan kekacauan. Para ahli sosiologi belum banyak melakukan studi menyangkut bentuk – bentuk penyimpangan yang diterima.

3.      Penyimpangan yang relatif dan mutlak
Pada masyarakat modern, kebanyakan orang tidak termasuk baik dalam kategori konformis seutuhnya, maupun dalam kategori penyimpang sepenuhnya. Seorang penyimpang sepenuhnya akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya. Hampir semua orang normal sesekali melakukan tindakan menyimpang. Sejumlah penelitian menunjukkan beberapa tindak kejahatan besar, yang bisa menyeret mereka ke pengadilan seandainya segenap peraturan hukum diterapkan. Oleh karena itu, jelaslah bahwa hampir semua orang dalam masyarakat kita merupakan penyimpangan dalam batas – batas tertentu, hanya saja beberapa di antaranya lebih sering melakukan penyimpangan mereka lebih tersembunyi daripada orang lain.

4.      Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal?
Budaya ideal mencakup kepatuhan terhadap segenap peraturan hukum, namun dalam kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan hukum.  Kesenjangan nilai – nilai utama antara budaya ideal (apa yang diucapkan orang) merupakan masalah yang penting. Pada setiap diskusi menyangkut kesenjangan yang dianggap penting tersebut, diperlukan adanya landasan dasar normatif yang berupa budaya ideal atau budaya nyata yang dipegang secara tersirat atau pun secara tegas.

5.      Norma-Norma Penghindaran
Bilamana nilai adat atau peratuan hukum melarang sesuatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat oleh banyak orang, maka kemungkinan besar norma – norma penghindaran akan muncul. Norma tersebut merupakan pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai – nilai tata kelakuan secara terbuka.

Adanya kenyataan bahwa suatu norma tertentu seringkali dilanggar, tidaklah selamanya menciptakan norma penghindaran. Hanya jika terdapat suatu pola pelanggaan yang diakui dan diberi sangsi oleh suatu kelompok, maka barulah kita memperoleh suatu norma penghindaran.

Kadang – kadang suatu pola penyimpangan tidak sepenuhnya dapat diterima sebagai suatu norma penghindaran, tetapi di lain pihak tidak pula sepenuhnya dapat dicela dan ditekan secara terus menerus. Dalam hal demikian, toleransi terhadap penyimpangan semacam itu dapat berfungsi sebagai suatu bentuk pengendalian sosial.

Jadi, toleransi terhadap penyimpangan, yang disertai dengan ancaman yang memungkinkan dicabutnya hak-hak isitmewa si penyimpang, yang selanjutnya akan diikuti dengan penerapan peraturan dengan sebenar-benarnya, berfungsi untuk mempertahankan pengendalian sosial.

6.      Penyimpangan Bersifat Adaptif
Penyimpangan merupakan suatu ancaman, tetapi juga merupakan alat pemelihaaan stabilitas sosial. Di satu pihak, suatu masyarakat hanya dapat melakukan kegiatannya secara efisien bilamana terdapat ketertiban (keteraturan) dan kepastian dalam kehidupan sosial. Kita harus mengetahui sampai batas – batas tertentu, perilaku apa yang kita harapkan dari orang lain, apa yang mereka inginkan dari orang lain, apa yang mereka inginkan dari kita, dan bagaimana wujud masyarakat yang pantas bagi sosialisasi anak-anak kita.
       
Di lain pihak, perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Ledakan penduduk, perubahan teknologi, dan punahnya kebudayaan lokal dan tradisional mengahruskan banyak orang untuk menerapkan norma – norma baru, karen aperubahan teknologi menuntut adanya penyesuaian diri dengan orang yang lebih maju.

Norma baru bermula lahir dari perilaku sehari – hari dari para individu yang memberikan reaksi sama terhadap pengaruh baru dalam kehidupan masyarakat atau dari keberhasilan beberapa kelompok dalam memaksakan peraturan baru terhadap kelompok – kelompok lainnya. Perilaku menyimpang dari beberapa individu bisa saja merupakan awal dari suatu norma baru.

Perilaku menyimpang seringkali merupakan awal dari penyesuaian di masa datang. Tanpa suatu perilaku menyimpang, penyesuaian budaya terhadap perubahan kebutuhan dan keadaan akan menjadi sulit. Oleh karena itu, suatu masyarakat yang mengalami perubahan memerlukan perilaku menyimpang, bilamana masyarakat itu ingin berfungsi secara efisien.

Perilaku pembunuh, penganiaya anak, atau pecandu minuman keras, jarang sekali menunjang berlakunya norma baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Kebanyakan penyimpangan menimbulkan akibat yang merusak bagi seseorang dan masyarakat. Untuk dapat memisahkan antara penyimpangan yang merusak dengan penyimpangan yang bermanfaat bagi masyarakat, memerlukan kemampuan meramal tentang norma sosial yang diperlukan oleh masyarakat hari esok.

Salam, Calon Psikolog

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar